Dapatkah Kalimantan Timur Maju tanpa Pertambangan?
Di tanah kita berpijak ini, Indonesia, memiliki banyak sumber daya alam. Ada SDA terbarukan dan tidak terbarukan. Salah satu contoh SDA tidak terbarukan, yaitu pertambangan. Di Kalimantan Timur (Kaltim) sendiri, sektor pertambangan merupakan salah satu sektor yang paling maju karena di tanah atau airnya tersimpan batu bara, minyak bumi, dan yang lainnya. Definisi pertambangan adalah salah satu kegiatan yang melakukan ekstraksi mineral dan bahan tambang lainnya dari dalam bumi. Sementara itu, penambangan adalah proses pengambilan material yang dapat diekstraksi dari dalam bumi.
Sektor pertambangan merupakan lima dari penyumbang terbesar keuangan negara. Tentu saja ini merupakan hal yang baik. Akan tetapi, untuk mendapatkan bahan tambang tersebut, dapat membuat kerusakan di bidang lain. Oleh karena itu, ada pihak yang mendukung tambang Kaltim ditutup dan ada yang tidak.
Pihak yang setuju tambang akan ditiadakan mengatakan bahwa Kaltim tidak hanya memiliki SDA di sektor pertambangan, tetapi di sektor pariwisata juga ada. Contohnya Pulau Derawan di Berau, Pulau Beras Basah di Bontang, dan Pantai Kumala serta Ladang Budaya (Ladaya) di Tenggarong. Beberapa tempat tersebut memiliki pemandangan yang tidak kalah indah dengan Jawa maupun Bali. Sayangnya, tempat pariwisata di Kaltim kurang terkenal. Maka dari itu, Kaltim harus bisa memajukan tempat-tempat seperti itu agar tidak bergantung pada pertambangan.
Selain itu, jika lahan di Kaltim terus-terusan dikeruk, akan menyebabkan kerusakan yang parah, seperti pada lingkungan. Hutan-hutan digunduli untuk membuka lahan pertambangan. Setelah bahan tambang tersebut habis, bekas galian ditinggalkan begitu saja dan tidak dilakukan reboisasi. Akibatnya tidak ada tempat penyerapan air dan jika hujan deras datang akan menyebabkan banjir.
Salah satu dampak negatif dari pertambangan yang baru-baru saja terjadi, yaitu bocornya minyak bumi di Balikpapan. Minyak yang tumpah ke laut tentu dapat mempengaruhi ekosistem di dalamnya. Air laut yang merupakan tempat tinggal bagi ikan, terumbu karang, maupun makhluk hidup lainnya terkontaminasi dengan minyak yang tentunya berbahaya jika terminum.
Bahan tambang merupakan SDA tidak terbarukan. Bahan tambang yang selalu dikeruk suatu saat akan habis dan butuh waktu yang sangat lama hingga beratus-ratus tahun agar tercipta lagi. Jika tambang sudah habis, generasi selanjutnya akan kesulitan mencari bahan pengganti yang tepat.
Daerah dekat pertambangan juga tidak sehat. Debu, asap, dan radiasi yang disebabkan oleh kegiatan tambang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit terhadap masyarakat di sekitarnya. Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat polusi pertambangan, antara lain kanker, asma, keracunan logam besi, infeksi cacing tambang, ISPA, dan diare. Selain itu, limbah dari pertambangan yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah maupun air.
Sektor pertambangan merupakan lima dari penyumbang terbesar keuangan negara. Tentu saja ini merupakan hal yang baik. Akan tetapi, untuk mendapatkan bahan tambang tersebut, dapat membuat kerusakan di bidang lain. Oleh karena itu, ada pihak yang mendukung tambang Kaltim ditutup dan ada yang tidak.
Pihak yang setuju tambang akan ditiadakan mengatakan bahwa Kaltim tidak hanya memiliki SDA di sektor pertambangan, tetapi di sektor pariwisata juga ada. Contohnya Pulau Derawan di Berau, Pulau Beras Basah di Bontang, dan Pantai Kumala serta Ladang Budaya (Ladaya) di Tenggarong. Beberapa tempat tersebut memiliki pemandangan yang tidak kalah indah dengan Jawa maupun Bali. Sayangnya, tempat pariwisata di Kaltim kurang terkenal. Maka dari itu, Kaltim harus bisa memajukan tempat-tempat seperti itu agar tidak bergantung pada pertambangan.
Selain itu, jika lahan di Kaltim terus-terusan dikeruk, akan menyebabkan kerusakan yang parah, seperti pada lingkungan. Hutan-hutan digunduli untuk membuka lahan pertambangan. Setelah bahan tambang tersebut habis, bekas galian ditinggalkan begitu saja dan tidak dilakukan reboisasi. Akibatnya tidak ada tempat penyerapan air dan jika hujan deras datang akan menyebabkan banjir.
Salah satu dampak negatif dari pertambangan yang baru-baru saja terjadi, yaitu bocornya minyak bumi di Balikpapan. Minyak yang tumpah ke laut tentu dapat mempengaruhi ekosistem di dalamnya. Air laut yang merupakan tempat tinggal bagi ikan, terumbu karang, maupun makhluk hidup lainnya terkontaminasi dengan minyak yang tentunya berbahaya jika terminum.
Daerah dekat pertambangan juga tidak sehat. Debu, asap, dan radiasi yang disebabkan oleh kegiatan tambang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit terhadap masyarakat di sekitarnya. Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat polusi pertambangan, antara lain kanker, asma, keracunan logam besi, infeksi cacing tambang, ISPA, dan diare. Selain itu, limbah dari pertambangan yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah maupun air.
Sementara itu, pihak yang tidak setuju tambang ditutup berpendapat bahwa pertambangan merupakan hal yang sangat penting bagi Kaltim bahkan Indonesia. Sektor pertambangan menyumbang 7-9% hasilnya kepada keuangan Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Rusmadi, Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim tahun 2015-2016, kontribusi kegiatan ekspor terhadap pergerakan ekonomi Kaltim mencapai 50% dari keseluruhan komponen pendapatan daerah. Jika tambang ditiadakan, Kaltim akan kehilangan sebagian besar pemasukannya dan tentu akan berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia.
Jika Kaltim ingin memajukan sektor pariwisatanya, tentu membutuhkan biaya. Bagaimana bisa Kaltim memajukan pariwisatanya jika penyumbang terbesarnya ditutup? Jika tambang ditiadakan, banyak orang yang terkena PHK dan akhirnya menjadi pengangguran. Hal tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap para pekerja tambang, namun orang yang menyewakan tempat tinggal, menjual makanan, serta tempat sewa atau jual alat berat bagi pekerja tambang juga akan kehilangan pendapatan mereka.
Mungkin bisa saja para pekerja tambang itu dialihkan ke sektor pariwisata. Akan tetapi, kota atau kabupaten yang memiliki pertambangan dan pariwisata berbeda. Tidak mungkin mereka dipindahkan semuanya, sedangkan pariwisata di Kaltim tidak terlalu banyak yang dapat dikembangkan.
Tidak mungkin semua pertambangan ditutup. Contohnya saja jika pertambangan minyak ditutup, transportasi akan kehilangan bahan bakarnya. Dan Indonesia belum menemukan pengganti dari minyak bumi tersebut. Hal ini tentu berpengaruh ke berbagai bidang lainnya.
Jika Kaltim ingin memajukan sektor pariwisatanya, tentu membutuhkan biaya. Bagaimana bisa Kaltim memajukan pariwisatanya jika penyumbang terbesarnya ditutup? Jika tambang ditiadakan, banyak orang yang terkena PHK dan akhirnya menjadi pengangguran. Hal tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap para pekerja tambang, namun orang yang menyewakan tempat tinggal, menjual makanan, serta tempat sewa atau jual alat berat bagi pekerja tambang juga akan kehilangan pendapatan mereka.
Mungkin bisa saja para pekerja tambang itu dialihkan ke sektor pariwisata. Akan tetapi, kota atau kabupaten yang memiliki pertambangan dan pariwisata berbeda. Tidak mungkin mereka dipindahkan semuanya, sedangkan pariwisata di Kaltim tidak terlalu banyak yang dapat dikembangkan.
Tidak mungkin semua pertambangan ditutup. Contohnya saja jika pertambangan minyak ditutup, transportasi akan kehilangan bahan bakarnya. Dan Indonesia belum menemukan pengganti dari minyak bumi tersebut. Hal ini tentu berpengaruh ke berbagai bidang lainnya.
Indonesia tidak dapat menutup pertambangan di Kaltim. Bagaimanapun juga negara kita membutuhkan pertambangan dari segi ekonomi, transportasi, dan lainnya. Indonesia tidak perlu menutup tambangnya, namun perlu menguranginya dengan cara memfokuskan penggunaannya untuk masyarakat Indonesia saja. Tidak perlu melakukan impor ke negera lainnya.
Comments
Post a Comment