Buku Pertama
Pertama kali bikin buku sendiri itu pas kelas 10. Sebenernya nggak sendiri, ada 3 temen lainnya. Jadi ada tugas kelompok bahasa Indonesia materi biografi. Tugasnya itu cari orang yang berkaitan dengan tema yang didapat (tiap kelompok beda), wawancara, trus dibikin buku deh. Terdengar mudah, tapi sebenarnya tidak.
Kelompoknya dibagi acak. Para cowok disuruh maju ke depan kelas dan ceweknya diberi nomor. Cowok-cowok menyebutkan 4 nomor yang diinginkan tanpa tau siapa orangnya. Karena hari itu ada 6 orang yang nggak masuk, akan ada 1 orang yang nggak terpilih.
Ternyata nomor saya nggak ada yang milih. Akhirnya, saya disuruh pilih anggota sendiri (yey). Saya sudah pilih 2 orang. Karena bakal ada kelompok yang cuma 3 orang, saya disuruh pilih mau 4 orang atau 3 orang. Saya bingung banget masukkan 1 orang lagi atau nggak. Karena jujur aja, temen saya ini susah banget diajak kerja kelompok.
Setelah berpikir cukup lama, saya memutuskan satu kelompok 4 orang. Nggak tau juga alasannya apa. Tema dibagikan dan saya dapat 'pemusik tradisional'.
Singkat cerita, dapat lah kami kontak pemusik tradisionalnya ini, namanya kak Asfi. Kami melakukan wawancara via whatsapp dengan kak Asfi, ayahnya, dan temannya. Teman saya sempat dikirimin broadcast message sama ayah kak Asfi.
Ternyata nulis itu susahhh banget. Bingung memilih kata yang tepat, kalimatnya nyambung apa nggak, bahasanya ribet nggak, dll. Udah gitu 2 anggota kelompok saya sama sekali tidak bisa diandalkan. Yang satunya banyak alasan, yang satunya susah diajak ngomong. Kadang nyesel kenapa nggak milih buat bertiga aja karena berempat nggak terlalu ngaruh (kecuali dibagian patungan), tapi yaudahlah ya. Kalo ngeluh doang nggak bakal selesai.
Karena komunikasi lewat wa nggak cukup, kami mendatangi kak Asfi. Ternyata rumah kak Asfi gabung dengan sanggar tari Bina Seni Budaya Indonesia (BSBI). Alhamdulillah wawancara lancar (kayaknya) walaupun agak awkward. Kak Asfi juga sempat bermain sampeq di depan kami.
Salah satu teman saya ada yang tinggal di asrama. Untuk menghemat uang, dia pulang jalan kaki (katanya) dari Mal Lembuswana sampai Masjid Islamic Center! Kalo dilihat dari Google Map sekitar 5,6 km.
Nah, pas deket-deket deadline nih yang paling bikin stres. Seminggu lagi udah US, biografi harus selesai dalam 3 hari karena harus dicetak. Akhirnya, saya sama 1 teman saya begadang H-1 pencetakan. Di saat-saat seperti itu, 2 teman yang lain nggak bisa diharapkan. Bahkan saya hampir mengeluarkan 1 teman saya karena nggak ada kontribusinya. Iya, saya tegas banget kalo urusan ginian.
Buku kan butuh cover. Saya minta tolong sama teman saya (kelas lain) yang bisa ngedit-ngedit foto. Kayaknya H-2 deh saya minta tolongnya. Untung anaknya sabar banget. Dia nggak mau dibayar, tapi saya tetep kasih. Maaf ya budget anak sekolahan jadi cuma 20 ribu :(
Hari pencetakan pun saya masih sibuk ngetik. Saya berusaha ngetik apapun yang penting syarat minimal halaman terpenuhi. Singkat cerita, buku biografi yang kelompok saya buat selesai dicetak. Seneng banget akhirnya penderitaan selesai. Hasilnya sih nggak seberapa, tapi perjuangan di baliknya itu yang bakal terkenang.

Sekian :)
Comments
Post a Comment